Daur-II • 161

Sekolah Nafsu Orangtua

Seger dan teman-temannya senada dan seirama dalam menolak usulan Pakde Brakodin untuk mengkhususkan waktu pergi ke lapangan-lapangan masyarakat. Meneliti, mengamati, menghayati langsung, merasakan dan mendalami.

“Sejak bayi, manusia menjalani waktu dan kehidupannya, tak lain untuk meleniti, Pakde”, katanya, “meneliti ke dalam maupun ke luar. Ke diri sendiri maupun ke masyarakat dan keadaan apapun di luar”, katanya. Dan “Keluarga, Masjid dan Sekolah seharusnya berisi panduan dan tuntunan dari kaum tua agar anak-anak semakin pandai meneliti. Tuntunan itu bukan nafsu orang-orang tua atas masa depan anak-anaknya, melainkan pemahaman dan perumusan tentang apa saja yang sebenarnya diperlukan oleh anak-anak itu untuk mengenali diri dan dunianya di mana mereka terlibat”, Jitul menambahkan.

Toling tak kalah. “Anak-anak bukan kendaraan yang dinaiki oleh ambisi orang-orang tua. Anak-anak bukan alat yang dieksploitasi oleh nafsu para pemimpin untuk menerapkan pendapatnya. Anak-anak bukan kuda tunggangan bagi para pejabat pendidikan untuk menjadi barang jualan bagi pamrih memperoleh keuntungan”

“Berada di tengah masyarakat ada senengnya, tapi juga ada sedih dan bosannya”, Seger menguraikan catatannya, “Biasanya di dalam pengajian atau forum-forum, berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih kepada Tuhanmu?” Maka mereka mengucapkan: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim“. [1] (Al-Qalam: 28-29).

“Ketika terjadi benturan kepentingan atas dunia, “…sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain seraya cela mencela”, tetapi belum pernah saya dengar ada yang berkata: “Mereka berkata: Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas”. [2] (Al-Qalam: 30-31).

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra