Wedang Uwuh (25)

Ruwetnya Kesederhanaan

Kedaulatan Rakyat, 11 April 2017

Pèncèng memprotes, “Mbah, kita ini sudah tidak normal. Kita sudah berusaha bergeser ke tema-tema yang kata Simbah sehari-hari, aktual dan sederhana, tapi akhirnya menjadi rumit dan ruwet lagi…”

“Bagaimana maksudmu?”, saya bertanya.

“Demi kepentingan orang banyak, kalau cerita tentang Mbah Wongso cukup keunikan jualannya, perilaku kasat matanya, keasyikan budayanya, Mbah. Tidak perlu sampai ke filosofinya, kedalaman nilainya, prinsip pengabdiannya, apalagi sampai ke Brahma, Sudra, Ulama, Pejabat…”

Saya tertawa. “Sebenarnya saya sedang menyusun kalimat persis seperti yang kamu proteskan”

“Lho, Simbah yang diprotes, bukan yang memprotes”

“Kan saya berhak memprotes diri saya sendiri. Simbah ini selalu kebablasen ke wilayah-wilayah yang rumit. Mosok cerita tentang Mbah Wongso saja kok sampai ke Ustadz, surga dan neraka. Simbah ini jengkel kepada diri Simbah sendiri…”

“Saya coba menjelaskan menurut penemu saya ya”, kata Gendhon menengahi. “Pertama, kalau kita mengambil keputusan untuk hanya memperbincangkan tema sehari-hari, aktual, dan sederhana, apa sebenarnya yang kita maksudkan?”

Beruk merespons, “Ya yang kelihatan-kelihatan saja. Misalnya apa bedanya Malioboro sekarang dibanding 30-40 tahun yang lalu. Kisah asyik antara Colt-Kampus dengan Trans-Yogya. Apa beda antara Yogya dengan Jogja. Apa yang dipikirkan oleh Pemerintah dulu sehingga Jalan Malioboro diganti dengan Jalan Ahmad Yani. Itu misalnya”

“Ok”, jawab Gendhon. “Pasar Klithikan. Maraknya kapitalisme kuliner. Pilkada. Warung, Restoran, dan Kafe. Membengkaknya jumlah Hotel di Yogya kaitannya dengan penanganan air. Udan salah mongso. Angkringan. Penculikan anak di Sekolah-sekolah. Makin sedikit jumlah Masjid Islam karena yang bermunculan adalah Masjid NU, Masjid LDII, Masjid Muhammadiyah, dan Masjid-Masjid Golongan, dll. Ok”

“Ok bagaimana”, kata Beruk.

“Kalau kita omongkan soal klithih, misalnya, saya yakin akan terbukti bahwa itu sama sekali bukan masalah sederhana. Ia berkaitan dan berada dalam proses sebab akibat yang spektrum nilainya sangat luas”

“Mungkin bisa kita diskusikan dengan bahasa dan cara yang lebih sederhana”, saya menawar.

“Selama ini apa yang tidak sederhana dari perbincangan kita, Mbah? Yang mana yang kita muluk-muluk dan dakik-dakik? Kalau kita bilang ini masalah peradaban kemanusiaan yang mengalami degradasi nilai, pelunturan moral atau destruksi penataan sosial – apakah itu muluk? Kan memang begitu peta masalahnya”

“Tapi bagi kebanyakan orang itu muluk-muluk?”, kata saya.

“Kalau saya bilang Negoro semakin ora mowo toto membuat deso juga kehilangan kemampuan untuk mowo coro – sehingga klithih bukan akibat yang aneh dari destruksi sosial semacam itu: apakah itu muluk-muluk?”

“Umumnya orang memang merasa itu muluk”

“Itu sangat jelas, Mbah, tidak muluk dan tidak ruwet. Maksud saya keruwetan yang sedang dialami oleh masyarakat kita ini sangat jelas. Jelas ruwetnya, ruwetnya jelas”

Pèncèng tertawa. “Maksud Gendhon, sekarang ini yang paling sederhana pun sebenarnya ruwet”

“Misalnya Pilkada”, kata Gendhon lagi, “kalau sekadar memilih pasangan A atau B, memang sederhana, tinggal coblos salah satu. Atau kalau mencintai keduanya ya dicoblos semua supaya adil. Tapi kalau kalau melihat asal-usul di belakang A dan B, bisa kita deret berpuluh-puluh konteks yang kelihatan sederhana, tetapi muatan kesederhanaan itu adalah keruwetan-keruwetan dalam proses kehidupan bernegara. Misalnya, rakyat tidak pernah punya hak pilih. Yang punya hak pilih calon pejabat adalah Parpol…”.

search cart twitter facebook gplus youtube image