Daur-II • 102

Pojokan Gelap

Perhatikan pertanyaan Mbah Sot: “Apakah teman itu berbuat baik ataukah berbuat buruk?”. Orang yang menyatakan “Saya jangan dekat-dekat pada Islam. Sebab Islam itu tinggi, suci, dan mulia. Sedangkan saya kotor, rendah, dan penuh maksiat…” – apakah ia sedang mengatakan sesuatu yang buruk ataukah baik?

Tentu ada bermacam-macam respons atasnya. Misalnya, “Islam memang suci dan tinggi, maka orang yang kotor sebaiknya mendekatkan diri pada Islam agar ia mulai membersihkan diri”. Atau, “Pernyataan dan sikap seperti itu lebih mulia dibanding orang yang sudah dekat bahkan berada dalam Islam, tetapi masih melakukan perbuatan yang kotor”.

Siapakah yang lebih dihormati oleh masyarakat? Orang yang sudah Muslim tapi melakukan kekotoran dan dosa, ataukah orang yang menjauh dari Islam karena sadar dirinya masih kotor? Kalau kehidupan adalah suatu dialektika antar manusia, bebrayan sosial, yang satuan-satuan perkumpulannya ditentukan oleh budayanya, penampilannya, kostumnya, atau kesamaan simbol-simbol budayanya — maka kumpulan Kaum Muslimin terdiri atas orang-orang yang memiliki ekspresi dan kebiasaan pergaulan yang sama, yang muncul dari respons-respons budaya atas Agamanya. Orang yang merasa masih kotor hidupnya dengan sendirinya akan tidak berada di lingkaran itu.

Jadi bagaimana sebenarnya menentukan, yang mana lingkaran kebenaran, lingkaran maksiat, lingkaran Muslimin dan lingkaran bukan Muslimin? Sejarah bisa terjebak oleh proses identifikasi di mana kebenaran Islam lebih disambungkan dengan simbol-simbol ekspresi budayanya, bukan oleh berbagai kemungkinan kandungan substansial nilai-nilainya. Temannya Markesot itu adalah sebuah tikungan, sebuah pojokan gelap, yang membuat kebanyakan orang salah menyimpulkan. “Kebaikan bukanlah menghadapkan wajahmu ke timur atau ke barat…”, Markesot mengutip pernyataan Allah. [1] (Al-Baqarah: 177).