Daur-II • 101

Mendekat Menjauh Mendekat

Mbah Sot pernah bercerita tentang seorang temannya jauh di luar negeri. Tidak ada yang hebat atau mewah dari temannya itu maupun ceritanya. Orang desa. Orang Jawa. Keturunan kuli-kuli Tebu yang dulu diangkut oleh penjajah Belanda ke Negeri Suriname. Teman Markesot itu mungkin cucu-cucu generasi keenam atau ketujuh atau lebih.

Ketemunya pun di Negeri Belanda. Teman Markesot itu lahir di Suriname. Tidak pernah tahu Pulau Jawa. Tidak bisa berbahasa Indonesia. Mereka berkomunikasi dengan Bahasa Jawa agak terpotong-potong, karena temannya itu tidak terlibat dengan keadaan sosial budaya pada era-era ketika kebudayaan Jawa bergaul dengan kebudayaan modern yang disebut Indonesia. Tetapi karena mereka sama-sama orang Jawa, maka pertemuan singkat mereka bernilai dan berkedalaman batin seolah-olah mereka adalah sahabat berpuluh-puluh tahun.

Tentu panjang cerita keindahan pertemuan mereka. Juga pasti banyak dimensi nilai di dalamnya. Tetapi yang dikisahkan oleh Mbah Sot adalah entah bagaimana asal usulnya sehingga mereka berbicara tentang Agama, di mana teman itu mengatakan bahwa ia bukan Muslim. Dan ia berkata terus terang: “Jangan. Saya jangan masuk Islam. Islam itu baik, tinggi dan mulia. Sedangkan saya ini kotor, masih suka mabuk…”

Dengan terlebih dulu mengganggu dengan mengutip firman Tuhan: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya, dan berdoalan kepada-Nya dengan rasa takut akan tidak diterima, serta harapan akan dikabulkan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. [1] (Al-A’raf: 56), Markesot bertanya: “Dengan pernyataannya, teman saya itu itu berbuat baik ataukah berbuat buruk? Ia sedang merusak atau menjaga kehidupan dari kerusakan? Ia mendekat kepada Allah ataukah menjauh?”.