Daur-II • 157

Melihat Neraka dengan Jelas

Seger mengungkap catatannya: “Ada penganut a bad news is a good news yang berangkatnya dagang biasa, takut tidak makan karena tidak tahu Allah menjamin rezeki hamba-Nya. Ada yang karena serakah mengeruk keuntungan dari jualan keburukan dan bangkai-bangkai sosial. Ada juga yang karena kepentingan yang lebih besar dan makro, merancang penguasaan global, maka bikin dan menguasai media untuk provokasi, brainwash, menjebak, menipu, memanipulasi ilmu, provokasi, hoax dan macam-macam lagi…”

“Sebentar, Seger”, Pakde Brakodin memotong, “Kalau bisa kita jangan terjebak balik-balik lagi ke tema-tema besar dan global yang posisi kita di tengah-tengahnya hanya mengeluh, berprihatin, menutuk, atau paling jauh ngrasani…”

“Lho saya dan kami anak-anak muda ini melengkapi pembelajaran ilmu dan pengetahuan”, Seger mempertahankan diri, “kami bukan mengeluh, tidak mengutuk, juga bukan ngrasani, meskipun pasti selalu berprihatin”

“Bagaimana kalau sekali-sekali kita khususkan waktu secara berkala untuk menelusuri lapangan masyarakat. Kita melihat tekstur nyata di tempat yang berbeda-beda. Pasti akan ketemu tema dan konteks masalah yang berbeda-beda pula. Jadi kalian tidak hanya berputar balik dari teks ke teks, dari kata ke kata, dari wacana ke wacana. Melainkan merasakan bau-nya kenyataan…”

Junit tertawa. “Pakde kita ini berdialog kan hanya 5-10% dari waktu yang kita jalani. Yang 90% setiap hari kita kan sudah berada di lapangan, menghirup bau-nya keadaan, menginderai tusukan-tusukan hawanya. Setiap siang dan malam kita sudah selalu berenang-renang di lendut realitas dan parit-parit comberan kehidupan. Seakan-akan ini yang difirmankan: “dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat”. [1] (An-Nazi’at: 36).