Daur-II • 104

Materialisme Kiblat

Kenapa kau pikir “menghadapkan wajahmu” adalah kata-kata datar dan linier sebagaimana engkau pada suatu pagi membuka daun jendela dan menghadapkan wajahmu ke pesawahan di samping rumahmu, kemudian naik ke gunung dan akhirnya meluas “menghadapkan wajah” ke cakrawala, dan naik “menghadapkan wajah” ke angkasa dan langit. Langit yang yang tak pernah kau ketahui batasnya, ujungnya, dan ketidakterbatasannya. Langit yang sesungguhnya kau tampung dalam khayalan dan kau kelola sebagai mitologi.

Kenapa kau batasi “wajah” adalah bagian depan dari kepalamu yang ada hidung mata pipi dan kedua bibirmu padanya. Ada apa dengan proses pembelajaran ummat manusia yang sekolah dan kuliahnya sudah mendaki sangat tinggi. Sesungguhnya pernahkah engkau ber-“wajah”, sementara tak pernah kau tempuh pembelajaran tentang wajah. Wahai hamba berhala. Wahai budak materialisme.

Wahai narapidana materialisme yang menyangka materialisme adalah sebatas kekayaan dunia, gedung-gedung tinggi, uang yang bertumpuk, kendaraan-kendaraan mewah, teknologi-teknologi penghancur ketangguhan kemanusiaan. Wahai budak-budak berhala yang menyangka berhala ada di luar dirimu dan kalian membungkuk bersujud di hadapan telapak kakinya.

Wahai betapa membeku berhala-berhala di dalam dirimu. Berhala-berhala kanker di susunan pikiranmu. Berhala-berhala merajalela di mesin rusak pemahaman batinmu. Wahai engkau sendiri adalah berhala demi dirimu sendiri, dalam dirimu sendiri, yang kau mengusir dan mengasingkannya dari dirimu sendiri, padahal yang diusir dan yang mengusir adalah dirimu sendiri.

Ini baru “wajah”. Belum “menghadapkan”. Belum “iman”, “memberikan harta”, “kerabat, anak-anak yatim, hamba sahaya”, “zakat”, “menepati janji”, “sabar dalam kesempitan”, “penderitaan dan peperangan” dan wahai: bagian dari sejarah peradaban ummat manusia bagian mana yang tidak terangkum oleh satu ayat itu? [1] (Al-Baqarah: 177) – bagaimana mungkin kau berpikir firman Allah sebatas Meterialisme Kiblat?