Daur-II • 077

Markesot Belajar Ngaji

Sejak itu Markesot melahirkan dirinya kembali, entah untuk yang keberapa kalinya. Dan ia berkata, “Sangat kecil kemungkinanku untuk haq, sementara sangat besar kepastianku untuk bathil. Aku debu dan kepandiran, diterbangkan oleh angin dan diombang-ambingkan di angkasa, melayang-layang di kekosongan”.

Ah, sebenarnya ini agak didramatisir. Aslinya Markesot itu belajar ngaji kembali. Ia mengulang seperti zaman di Langgar dahulu kala.

“Kuawali kembali ini tanpa kuasa atas awal, dan akan kuakhiri tanpa pengetahuan tentang akhir. Tiba-tiba kutuliskan ini tanpa kuasa atas tulisan, tanpa mengerti asal usul huruf, serta tanpa kesanggupan untuk bertanggungjawab atas kata, kalimat serta susunannya. Di manakah pintu gerbang Iqra`? Aku merebahkan seluruh hidupku. Aku menyerahkan semua benar salahku, baik burukku dan indah jorokku. Aku merangkak kepada Allah dengan dua kaki ketakberdayaan dan dua tangan kerinduan, untuk mengemis ampunan dari Tuhan. Aku terpana karena takjub oleh keagungan-Nya. Jiwaku melantunkan nyanyian syukur, atas kebijaksanaan-Nya memenjarakanku di dalam ujian kekerdilan, cobaan kelemahan, jebakan keterbatasan serta pesona kesombongan.”

“Aku sirna dalam kesadaran tentang kegelapanku. Aku musnah dalam pengetahuan tentang ketiadaanku. Aku luluh lantak di hadapan cahaya kesucian-Mu. Mushaf Al-Qur`an di hadapanku.

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu”. [1] (Fusshilat: 53). Mohon ajari hamba Iqra`.

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra