Daur-II • 107

Keder Terhadap Harta Benda

Sangat memalukan bahwa manusia selama 14 abad lebih disindir oleh Allah “merasa puas dengan kehidupan dunia, serta merasa tenteram dengan kehidupan itu[1] (Yunus: 7), tidak merasa tersentuh perasaannya dan tidak merasa terpukul akal pikirannya. Era peradaban yang berlangsung sekarang ini justru merupakan puncak maniak dari materialisme yang disebut terang-terangan oleh Allah itu.

Semua kumpulan ummat manusia di Negara manapun tidak ada yang absen berlaku bebal dan dungu terhadap sindiran Allah. Bahkan mereka bangga dan sangat merasa benar dengan ideologi pembangunan dan “agama” kemajuannya, yang semua makhluk langit menertawakannya. Bahkan Iblis dan Setan merasa sangat geli melihat manusia, sementara masyarakat Jin merasa sangat iba.

Mereka hanya tahu yang dhohir dari kehidupan dunia, dan tentang kehidupan akherat mereka sangat lalai[2] (Ar-Rum: 7). Selama komunitas Patangpuluhan mengenal Mbah Sot, wajah beliau adalah wajah iba di dalam dirinya, tetapi yang dipancarkan oleh cahaya wajahnya adalah upaya untuk menggembirakan siapa saja. Mungkin justru karena rasa iba yang memberat di dalam batinnya kepada teman-temannya dan kepada kebanyakan manusia.

Tahu yang “dhohir”. Yang kasat mata. Orang-orang tua sejak zaman dahulu hidup dengan kesimpulan “Kalau Ilmu Katon itu gampang. Itu cukup dilayani dengan ujung jari dan kedipan mata. Tidak perlu mengerahkan akal dan roso”. Tapi justru itulah yang dibanggakan oleh Peradaban Abad 20-21 ummat manusia di muka bumi. Alangkah sial nasib manusia sekarang ini: bersekolah belasan tahun dengan biaya sangat mahal, hanya untuk keder terhadap harta benda. Hanya untuk kagum kepada teknologi. Hanya untuk minder terhadap kekayaan, merasa sangat ngeri terhadap kemiskinan. Hanya untuk takjub kepada yang sekedar mata telanjang pun bisa melihat dan mengaksesnya. Alangkah remeh manusia.

search cart twitter facebook gplus youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra