Wedang Uwuh (26)

Kapan Dadi Wong

Kedaulatan Rakyat, 18 April 2017

Akhirnya kami sepakati bersama sahabat-sahabat muda itu, Beruk, Gendhon, dan Pèncèng, untuk menunda tema-tema yang mereka himpun, serta menyimpannya di laci saja dulu.

Saya sangat menghormati semua yang sebelum ini coba diungkapkan oleh Beruk: Ratu, Singgasana, Sabda, Firman, Ndaru, Wangsit, dan segala macam itu. Tetapi ibarat mangga, biar di-imbu dulu di pogo, dibungkus damèn atau kain penghangat. Kapan-kapan kita makan bersama-sama, untuk mengetahui rasa manisnya Ngayogyakartahadiningrat.

Toh kebanyakan orang tidak merasakan secara cukup mendalam berapa parah dan serius masalah itu. Dan yang mempedulikannya, baru dalam proses menyelami kedalaman masalahnya, dasar-dasar pijakan konteksnya, sambil bergerak satu dua langkah, yang orang banyak tidak merasakan ketersentuhan cukup memadai olehnya. Mungkin karena alam pikiran mainstream yang berlangsung dibingungkan oleh kontraversi antara nilai-nilai modernisme yang tidak sungguh-sungguh mereka pahami, sementara nilai-nilai tradisional sudah semakin terkikis dari ilmu dan pengetahuan mereka.

“Itu semua ndak nyambung dengan alam pikiran masyarakat sekarang”, saya bilang ke mereka, “kita sudah mengalami transmigrasi nilai terlalu jauh. Kita terlalu mempedulikan apa yang masyarakat tidak peduli, dan masyarakat sibuk dengan hal-hal yang kita semakin tidak paham”

Gendhon nyeletuk tanpa memandang wajah saya, “Simbah memang menyeret kita ke alam berpikir yang sangat tidak popular. Saya tidak menyesali itu, tapi terus juga kebingungan. Sekarang ini saya rasakan makin lama saya makin tidak bisa nyambung kalau ngobrol dengan teman-teman. Baik ketika jagongan langsung, di grup-grup WA, atau dalam lingkaran silaturahmi yang lain”

“Saya minta maaf, Ndhon”, kata saya.

“Simbah bisa disebut salah, bisa tidak, tergantung nilai dasar apa yang kita sepakati”, respons Gendhon, “kalau yang kita maksud hidup adalah berpikir tepat, berhati tulus, bertindak arif, berlaku kasih sayang, mencari kesejatian makna kehidupan – maka Simbah benar. Tapi kalau hidup adalah berkarier, bekerja keras, meraih eksistensi dan sukses, menghimpun harta benda – maka Simbah adalah contoh terburuk dari orang-orang tua yang pernah saya kenal”

Beruk tertawa. “Racun paling bahaya yang dicekokkan oleh Simbah kepada kita”, katanya, “adalah pandangan bahwa besok-besok yang kita setorkan ke Tuhan bukan kepintaran, kekayaan, kekuatan, kekuasaan atau kehebatan. Yang ditunggu Tuhan dari kita hanya sejarah cinta kita kepada-Nya, kasih sayang kepada sesama manusia dan alam, asah asih asuh sosial, kejujuran perilaku, kebersihan akhlak, pokoknya bebrayan yang saling mengamankan dan menyelamatkan. Tidak penting selama di dunia kita menjadi Walikota atau kuli pasar dan tukang parkir. Tidak masalah selama outbond di Bumi kita kaya atau miskin, sarjana atau petugas cleaning service, Ustadz atau tukang sapu jalanan…”

“Itu semua kan bertentangan dengan muatan utama zaman yang sedang berlangsung”, Pèncèng menyambung, “Simbah membuat kita tidak bekerja keras untuk keberhasilan di dunia. Simbah bilang dunia bukan tempat keberhasilan, melainkan sekadar ujian beberapa saat untuk menghimpun bahan-bahan bangunan kelak di kehidupan abadi. Dunia bukan tempat membangun rumah, melainkan sekadar menghimpun batu-bata dan material yang terbaik untuk membangun rumah kita di sorga besok lusa…”

Pèncèng tertawa cekikikan. “Akhirnya sampai usia lewat sepertiga abad kita tetap kéré, belum bisa menyewa rumah, apalagi membeli. Kita tidak punya karier, tidak ada gejala-gejala sukses, tidak ada kemajuan apa-apa, lantas kapan kita akan dadi wong, mosok dadi wedus terus…”

Gendhon menyambung: “Simbah ini hidup kesepian, gagal karier, tidak punya pencapaian apa-apa…terus ngajak-ajak kita…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image