Daur-II • 162

Ijtihad adalah Ancaman

“Sungguh kami bersyukur kepada Allah dan merasa beruntung bisa terjebak ketemu Pakde Paklik dan komunitas Mbah Sot, meskipun hanya sebagian kecil yang kami kenal”, kata Junit, “tetapi terus terang ongkosnya tidak ringan dan tidak murah juga”

“Apa maksudmu, Nit?”, Pakde Tarmihim bertanya.

“Kami menjadi makhluk asing di tengah teman-teman sesama kaum muda. Kami menjadi makhluk aneh di tengah masyarakat, bahkan kadang seperti orang gila di tengah keluarga sendiri”

Jitul tertawa. “Pikiran kami tidak nyambung dengan kebanyakan orang. Kami susah untuk bisa terlibat ngobrol dengan mereka. Bukannya kami merasa pintar dan lebih tahu kehidupan, tapi tema-tema yang kami pikirkan benar-benar di luar kotak masyarakat”

“Bukan hanya soal tema”, Toling menambahi, “cara kita memandang dan memahami apa saja, berbeda dengan yang umumnya berlaku di masyarakat. Kalau kita merespons berbeda sedikit, dibilang sok filosofis, atau berpikir ruwet, atau sok pintar. Kalau kita mengungkapkan cara pandang yang tidak sama dengan mereka, kita dituduh ekstrem atau radikal. Minimal dianggap mempersulit diri sendiri”

Junit melengkapi. “Kecerdasan dianggap keanehan. Kreativitas ditanggapi sebagai ancaman. Hasil ijtihad bisa dituduh makar atau kafir. Penemuan baru diperlakukan sebagai menyalahi kebiasaan. Kami sebenarnya mafhum kepada semua itu, dan selalu bersikap lembut, pelan-pelan, dan hati-hati. ‘Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya’. [1] (Ali ‘Imron: 159). Bagi kami ayat ini tidak hanya berlaku antara orang yang berbeda Agama”.