Fuadus-Sab’ah

Qadla dan Qadar Menturo

Kalau kakak sulung kami bukan Cak Fuad, belum tentu kita punya kenikmatan Padhangmbulan dan Maiyah seperti ini. Kalau di antara 15 bersaudara kami sulungnya bukan Cak Fuad, kita semua Jamaah Maiyah tidak akan pernah punya wadah intimitas, sumber ilmu, dan cakrawala hikmah seperti yang kita nikmati sekarang di Padhangmbulan dan semua lingkaran Maiyah lainnya di berbagai “kebun sorga” di bumi.

Maha Suci Allah yang telah menciptakan jagat raya dari bahan yang diambil dari dzat-Nya sendiri. Dan di antara taburan tak terbilang jumlah serbuk dzat-Nya itu Ia ciptakan kita semua hamba-hamba-Nya di bumi. Yang Ia cintai dan kita mencintai-Nya. Ia susun komposisi dzat-dzat yang kemudian ia hamparkan sebagai Jamaah Maiyah di beribu-ribu titik, yang di dalam dada mereka Ia sematkan cinta dan persaudaraan sejati. Ia ciptakan pula keluarga Menturo, Ia persaudarakan kami ber-15, dengan Cak Fuad sebagai sulung hasil akselerasi dari serbuk dzat Cak Mad dan Yu Mah — semuanya terbuat dari dzat-Nya sendiri.

Kalau sesepuh utama kita bukan Cak Fuad, belum tentu kita dianugerahi oleh Allah kesegaran cinta kepada-Nya dan kepada sesama. Tali-temali paseduluran ittiba’ Rasulillah Saw. Bangunan ajaib silaturahmi yang tak lapuk oleh waktu. Sabana-sabana ilmu ‘kaannaha kaukabun dzurriyyun’, pancaran cahaya dari sumber-sumber yang disusun oleh Allah ‘yakadu zaituha yudhi’u walau lam tamsashu nar’. Tumpahan berkah dari langit, serta pandangan yang terang benderang ke dalam diri kita sendiri dan terhadap kehidupan: ‘Fajwatin minhu’, Padhangmbulan yang kecil, namun ia adalah Gua Maiyah rahmat-Nya yang betapa luas, dengan dialektika terbit tenggelamnya matahari di kanan dan kiri.

Kalau putra mbarep Cak Mad dan Yu Mah bukan Cak Fuad, tidak bisa saya simulasikan akan ada keindahan lukisan qadla dan qadar Allah sebagaimana yang kita syukuri bersama selama bertahun-tahun ini. Saudara tua di antara 15 bersaudara, Sesepuh patokan berjuta-juta tali ilmu, dimerdekakan oleh Allah jiwanya dari pamrih, ambisi, egosentrisme, eksistensialisme, ananiyah, kedengkian, dan hampir semua jenis kebodohan hidup dan kekerdilan keduniaan.

Filosofi Tujuh

Kalau Cak Fuad adalah manusia terpelajar dan sarjana modern yang mengejar angka 10 sebagaimana hampir semua cendekiawan lainnya, kita tak bisa ketemu beliau setiap Malam Purnama mendengarkan kejernihan mata pandang terhadap firman-firman Allah.

Kalau Cak Fuad bukan putra Ayah Ibu kami, dan dididik serta dipacu untuk berkiprah sebagaimana umumnya makhluk manusia yang mengisi waktu hidupnya dengan perjuangan individualisme, maka kita semua belum tentu berenang-renang mandi ilmu dan berlumuran berkah di danau “Fuadus-Sab’ah”.

Kalau Cak Fuad adalah pejuang kebesaran pribadi, kita kita anak-anak yatim zaman ini akan kesepian ditinggalkan oleh Beliau yang meloncat sana sini, menduduki kursi itu ini, mengendarai jabatan, status, reputasi sosial, sukses hidup, panggung nasional dan jembatan-jembatan dunia global.

Sebab apa susahnya mencapai itu semua. Kebesaran, kemegahan, dan kemewahan keduniaan semacam itu diisi dan dihuni oleh hamba-hamba Allah dengan persyaratan kualitas yang tidak perlu tidak rendah. Mohon ampun kepada Allah dan mohon maaf kepada ummat manusia, dari 7-nya Cak Fuad cukup mengandalkan 2-3 komponen untuk mencapai itu semua. 7 saja cukup. Tidak perlu mengejar 8-9-10nya dunia fana.

Cak Fuad, dengan sumeleh filosofi “7 saja sudah tak cukup seluruh hidup ini untuk bersyukur”, adalah uswatun hasanah bagi semua adik-adiknya. Adalah pelopor kesederhanaan dan ideologi syukur. Adalah panutan bagi 14 adik-adiknya. Dan menjadilah kami semua keluarga yang tidak sukses, tidak memiliki kebesaran, tidak berpakaian kehebatan, tidak berkostum kedahsyatan keduniaan apapun, apalagi kekayaan harta benda. Kami sekeluarga adalah orang-orang yang tidak mencapai apa-apa di pentas dunia, tidak berjas dan berdasi, apalagi bersurban atau berpeci.

Kami sekeluarga adalah rakyat kecil yang tidak punya sandangan sosial yang bisa dibanggakan di depan pandangan dunia. Kami tidak punya peranan dalam kehidupan bermasyarakat, berummat, bernegara, apalagi berglobalisasi. Kami tidak pernah menemukan bahwa diri kami ini “bermanfaat bagi Bangsa dan Negara”. Bahkan dalam peta Indonesia, baik dalam konteks formal, keilmuan, kultural atau keagamaan: kami tidak beralamat. Kami hanya penduduk anonim di sebuah RT yang terselip di ketiak zaman.

Minta Maaf kepada Yang Menyakiti Hatinya

Meskipun demikian kami adalah manusia ciptaan Allah. Ia menyematkan ghirrah dan muru`ah di partisi sukma kami. Ketika datang tantangan dari dunia politik, kekuasaan, cercaan, dan fitnah masyarakat serta bermacam-macam lainnya — Ibunda kami berdiri dan keluar dari pintu depan rumah, berkata “Yokopo karepmu? Koen wani ta musuh anakku lanang sepuluh glundhang-glundhung?”

Tetapi dalam hidup saya di dunia yang ini, tak pernah saya jumpai manusia pemaaf melebihi Ayah kami, Ibu kami, Cak Fuad, Cak Mif — saya dan saudara-saudara yang lain bermakmum di belakang Beliau-Beliau. Kami orang kecil, tak punya kebesaran, dan tidak akan pernah membesar-besarkan siapapun kecuali Allah dan Kanjeng Nabi. Kepada sesama manusia, membesarkan saja pun tidak, apalagi mengecilkan.

Cak Fuad adalah putra sulung yang dibesarkan oleh Ayah Ibu yang menginfaqkan hidupnya untuk rakyat kecil. Merintis, mempelopori, dan membiayai berbagai bidang kegiatan mereka, dari olahraga, keagamaan, dan kegiatan sosial lainnya. Membapak-ibuki anak-anak yatim. Menyekolahkan dan menata pekerjaan murid-muridnya. Sampai bahkan mendirikan rumah-rumah untuk mereka. Ayah Ibu memfasilitasi mereka lebih dari putra-putrinya sendiri, sampai menikahkan mereka sebelum menikahkan anak-anaknya sendiri. Kemudian dikhianati secara sangat lalim dan kejam oleh sebagian dari anak-anak yang Beliau berdua besarkan dengan cinta.

Ibu Chalimah selalu mengajak anak-anaknya berkeliling desa, mendatangi para tetangga yang miskin, menanyakan keadaan dapurnya, sekolah anak-anaknya dan masih punya rukuh atau tidak, kemudian Ibu memfasilitasinya. Ibu Chalimah bahkan tidak tega kepada orang yang berjalan kaki di depan rumah, atau rakyat yang bekerja dengan menaiki sepeda, kemudian mengkreditkan motor. Ibu menyuruh saya membangunkan rumah tetangga yang darurat harus punya gubug sendiri. Bahkan yang paling “mengerikan” adalah Ibu berkeliling meminta maaf kepada setiap orang yang mengkhianati dan menyakiti hatinya.

Sampai akhirnya Ayah kami dipanggil Allah di puncak penderitaan sosialnya serta kesengsaraan dan kemiskinan keluarganya. Hari itu juga Cak Fuad harus memimpin penderitaan dan Cak Mif mempanglimai kesengsaraan, yang kelak ternyata semua pengalaman itu sama sekali bukan derita atau sengsara. Itu semua bernama perjuangan.

Syu’uban wa Qabaila Lita’arofu

Murid-murid Cak Fuad, Cak Mif, Cak Nas, dan Cak Dil, menjadi pejabat-pejabat Negara, pemuka-pemuka Negeri dan pemimpin-pemimpin masyarakat dan penggerak-penggerak ummat di beribu titik Nusantara. Dan Cak Fuad, Cak Mif, Cak Nas, dan Cak Dil tetaplah hanya Cak Fuad, Cak Mif, Cak Nas, dan Cak Dil.

Cak Mif yang sudah tiga tahun kuliah di Farmasi UGM dan jalurnya adalah menjadi Menteri Kesehatan, mendadak hari itu juga harus memimpin Rapat Guru SD, kemudian langsung menangani seluruh keperluan pendidikan, berpuluh-puluh tahun sampai hari ini. Cak Nas manusia penyayang, hatinya sangat mendalam, pengasuh dan pengayom di semua lingkaran kegiatannya. Ia pelacak masa silam, meniti Nasab untuk mempelajari titik-titik berat qadla dan qadar keluarga.

Cak Dil bagaikan hidup abadi, “ora tedhas tapak paluning pandhe”, Allah belum pernah mengizinkan sakit menghampirinya. Jangkauan langkahnya tak terjangkau oleh kaki saudara-saudaranya yang lain. Juga jangkauan silaturahminya, pemikiran, imajinasi, simulasi, dan inovasinya. Cak Nang mrantasi semua keperluan maintenance, generasi menengah yang menyambung bawah dengan atas, motor penggerak, sumber tenaga dan busur meluncurnya anak-anak panah. Cak Yus berlompatan ke seluruh Nusantara nggembol Maiyah ditabur-taburkan dengan kecerdasan, ketajaman, dan keluwesan.

Ning Nadlroh tangan kanan penderitaan Ibu Chalimah dan sampai kini setia menjalani derita itu, dalam aktivitas sosial yang tanpa putus asa: ia bukan Ibu biologis siapapun, tapi adalah Ibu sosial bagi banyak komunitas dan kegiatan. Ning Inayah yang cemerlang dengan Sekolahannya dan pemurah dalam kehidupan sosialnya, bak pesilat yang sibuk menyangga, menggendong, menangkis, berlompatan, bahkan jungkir balik dalam perjuangan yang membahagiakannya. Ning Izzah pribadi mustaqimah, pensetia sejati, berdiri kokoh di maqamnya, menjunjung semua yang wajib dijunjungnya, mengasuh siapa saja yang Allah menitipkan kepadanya.

Cak Zaki adalah pesawat besar dengan empat mesin yang terus harus hidup keempat-empatnya. Ia simpul beribu tali pengelolaan Maiyah beserta sub-sub-mesin yang menyala di dalamnya. Ia patok kayu jati yang mengendalikan gerak semua “kambing-kambing”, menentukan berapa panjang tali dari lehernya, menatap seberapa luas lapangan rumput yang dijelajahinya. Lik Ham ditarekatkan oleh Allah, disorong dan diserap untuk memasuki ruang-ruang yang penuh keremangan, untuk menemukan sumber-sumber cahaya. Cak Farid dicampakkan ke pasar, ke gang-gang kampung, ke tepian hutan, sungai dan gunung-gunung, ditugasi untuk mengamati dan mencatati cuaca.

Kalau tidak diizinkan Allah berkeliling dunia, mungkin cukup “sawang sinawang” di antara 15 bersaudara, cukuplah untuk memasuki pintu “syu’uban wa qabail”. Sepanjang hidup, terutama selama ada Padhangmbulan, kami laksanakan “lita’arofu” terus-menerus, konstan dan setia satu sama lain. Tentu dengan segala kelemahan dan kekurangan masing-masing. Dengan segala problematikanya yang sungguh-sungguh bermacam-macam dan berpernik-pernik. Pun dengan kekonyolan dan kecengengan masing-masing. Tetapi syarat ilmiahnya: harus Cak Fuad sulungnya.

Ngarit dan Ngramban

Cak Fuad adalah satu di antara beberapa orang di dunia yang sering saya bikin susah. Dan di antara mereka yang pernah saya bikin susah, Cak Fuad adalah salah satu yang tidak pernah menunjukkan gejala bahwa ia merasa saya bikin susah. Tak pernah tampak pada ekspresi wajahnya atau perilakunya bahwa ia “menagih” masa silam ketika saya bikin dia susah.

Cak Fuad sulung dari 15 bersaudara, sehingga pasti dia yang paling menanggung perilaku tidak normal saya, terutama pada era kanak-kanak dan remaja. Cak Fuad harus menampung dan mencarikan tempat saya di desa Gontor, padahal dia terkurung di dalam Pondok, sementara peraturan Pondok sangat ketat untuk membatasi interaksi para santri dengan penduduk desa — karena berbagai pertimbangan edukasi dan kultural.

Ketika itu Cak Fuad belum 17 tahun dan saya belum 10 tahun. Saya pindah dari Menturo ke Gontor karena ada masalah besar dengan Sekolah Dasar saya di Bakalan. Cak Fuad harus memasukkan saya ke SD Gontor. Entah bagaimana urusan perizinan Cak Fuad dengan aturan Pondok untuk mengurusi saya bertanding main Kasti dan Sepakbola di Kabupaten Ponorogo. Belum lagi saya diikutkan Lomba Qiroatul Qur`an di sana sini, sehingga harus dikawal.

Belum lagi tak sampai seminggu saya memberontak dari rumah Pak dan Bu Hadjid tempat kost saya, gara-gara saya disediakan kamar sendiri yang berkasur, disiapkan makan minum rutin di meja – padahal tujuan saya di Gontor adalah menjalani Tirakat. Susah payah Cak Fuad mengusahakan saya pindah ke rumah Pak Carik Gontor, ditambah sering ada laporan Pak Carik bahwa saya tidak tidur di rumah, melainkan di kebun, utamanya di atas pohon. Bahkan sering hilang di Sungai Malo yang sangat rimbun dan angker.

Supaya kesibukan saya tertata, saya disekolahkan SD pagi sampai siang, sorenya di Madrasah. Diselingi ngarit atau ngramban untuk kambing-kambingnya Pak Carik. Mungkin Cak Fuad sedikit gembira melihat kebiasaan saya bangun jauh sebelum Subuh, menyapu seluruh lantai rumah pak Carik, halamannya, kemudian halaman Masjid dan lantai Masjid, kemudian adzan. Tetapi pasti menjadi masalah bagi Cak Fuad bahwa dalam pergaulan sehari-hari saya sering berkelahi, dan musuh utama saya adalah putra Kiainya Cak Fuad sendiri, yaitu KH Ahmad Sahal.

Apalagi dalam pergaulan sehari-hari saya justru sangat dekat dengan Abbas, putra Pak Lurah, yang budayanya jauh dari dunia santri. Mr. Abbas yang ‘manusia anomali’ ini yang dilihat Cak Fuad sering bersama saya dolan ke kuburan-kuburan, menemani saya menggembalakan kambing di Malo seberang sungai, atau ke warung-warung pelosok yang Cak Fuad mustahil pernah mendatanginya selama 6 tahun nyantri di Gontor. Kelak Sir Abbas ini dikenal masyarakat sebagai “Dukun” sekaligus “Kiai liar”, yang kalau kepergok disuruh memimpin doa, ia membaca teks Muthola’ah atau pelajaran Bahasa Arab dasar: “Kana rojulun yadhribu kalban, walakinnal kalba lan yadhriba rojulan” — tersebutlah ada orang memukul anjing, tetapi anjing niscaya tak kan memukul orang.

Demi Hati Ibu

Cak Fuad saya ombang-ambingkan di antara kegembiraan dan keprihatinan. Dia senang ketika akhirnya saya menjadi santri di Pondok Gontor ternyata sangat tertib dan penuh disiplin, tidak pernah keluar Pondok, tidak pernah pamit hari Jumat dolan ke Ponorogo. Tapi tiba-tiba mendengar berita bahwa saya diusir: angkat koper gulung tikar, karena satu-satunya kesalahan yang pernah saya lakukan, yakni memobilisasi demonstrasi melawan Kepala Keamanan yang dholim, menurut fakta-fakta yang saya alami dan pelajari. Pasti Cak Fuad harus menanggung itu di depan Ayah Ibu kami.

Tetapi mungkin Cak Fuad sedikit terhibur mendengar kabar bahwa Ahmad Tauhid putra Kiai Sahal yang dulu musuh berkelahi saya, adalah santri Gontor satu-satunya yang menangisi keterusiran saya dari Pondok. Tauhid berlari, menangis, dan memeluk saya pas saya mau naik Dokar dari Gontor ke Ponorogo karena “mathrud” alias diusir. Cak Fuad adalah orang yang paling lama memiliki kesempatan untuk memahami saya, sebelum pada akhirnya masyarakat kemungkinan besar tidak pernah benar-benar memahami saya. Sesudah saya diusir dari Gontor, mungkin Cak Fuad harus ikut mempertanggungjawabkan kepada Ayah dan Ibu, terutama karena dalam posisi diusir itu saya tidak menunjukkan perasaan apapun. Tidak sedih. Tidak menyesal. Tidak frustrasi. Juga tidak ada gejala bahwa saya punya niat untuk mencari Sekolah baru. Sampai akhirnya Ayah yang langsung turun tangan menjadi Guru saya.

Tentu saja kemudian saya “dibuang” ke Yogya, karena Cak Fuad kuliah di sana. Saya harus bikin susah lagi, baik dalam kehidupan sehari-hari di tempat kost, maupun urusan Sekolah SMP Tampungan. Untungnya kami miskin, sehingga Cak Fuad dan Cak Mif menerima order stensilan, bikin Majalah sejumlah Organisasi Mahasiswa. Para Redakturnya menyerahkan kepada Cak Fuad untuk ikut mengisinya. Maka saya banyak menerima perintah untuk menulis berbagai macam hal agar Majalah mereka bisa terbit.

Kemiskinan melatih saya untuk bisa menulis. Jalannya lewat Cak Fuad dan Cak Mif, juga salah seorang sahabat Cak Fuad. Di luar menulis berbagai artikel, esai atau cerpen untuk Majalah-majalah Stensilan itu, diam-diam saya juga rajin menulis puisi. Dan sahabat Cak Fuad, yakni Cak Muntholib Sukandar, Babat, pada suatu hari berkata kepada Cak Fuad, yang saya mendengarnya tanpa sengaja: “Anak ini memang bisa menulis puisi… Ini benar-benar puisi…”.  GR-lah saya dan sejak itu saya tancap gas menulis puisi dengan keyakinan dan kemantapan.

Tetapi gara-gara puisi saya mbolos Sekolah rata-rata 40 hari dalam satu Kwartal. Setiap malam begadang di Malioboro. Dan pada suatu hari karena bertengkar dengan sejumlah Guru, saya mendadak tidak mau pergi sekolah. Setelah beberapa hari ketahuan oleh Cak Fuad. Dan sore itu sambil menunggu Maghrib Cak Fuad merayu saya: “Tolonglah sekali ini saja, demi supaya Ibu tidak sedih hatinya, Sekolah lagi lah…”. Dan spontan, karena urusannya adalah hati Ibu, sehabis shalat Maghrib saya jalan kaki ke rumah Kepala Sekolah, meminta maaf dan mohon diizinkan untuk masuk Sekolah lagi.

Sebenarnya ketika dewasa pun saya banyak menyusahkannya, dalam tema dan kejadian yang mungkin berbeda dari era-era sebelumnya. Termasuk selama Padhangmbulan dan Maiyah. Saya mohon kepada Allah agar melimpahkan hidayah kepada Jamaah Maiyah betapa tidak mudahnya menjadi Cak Fuad di masyarakat Maiyah. Betapa harus Cak Fuad siapkan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan. Dan “Fuadus-sab’ah” itu benar-benar memenuhi jiwa Cak Fuad: bukan hanya penerimaan apa adanya yang Allah anugerahkan, bahkan juga mempuasai dirinya sendiri, menentukan batas yang rendah hati atas kehidupan. Hidup bukanlah mencapai apa di dunia, melainkan dibukakan pintu ridla atau tidak oleh Sang Maha Pencipta.

Psikologi Keledai

Sesungguhnya, secara psikologis dan berdasarkan tradisi budaya, tidak pada tempatnya saya menulis tentang Cak Fuad, karena beliau adalah saudara saya sendiri. Juga seharusnya sangat sulit menyusun kalimat tentang kakak sendiri di hadapan publik, karena ‘sungkan’, ‘pekewuh’ atau canggung dan bias.

Normalnya juga, masyarakat tidak cenderung percaya. Kalau ungkapan positif direspons “lha ya wong kakaknya…”. Kalau negatif memunculkan pertanyaan “ada persaingan apa di antara kakak beradik ini…”. Andaipun tidak positif atau negatif, orang tetap tidak “mengizinkan”nya: “Menulis kok tentang saudaranya sendiri…

Alhasil, situasinya seperti Nashrudin Hoja dan putranya dengan keledai. Dinaiki Nashrudin, dikutuk kok anaknya disuruh jalan. Dinaiki anaknya dimarahi orang kok bukan Bapaknya yang naik keledai. Dinaiki bareng dituduh kejam menganiaya keledai. Memanggul keledai berdua ditertawakan sebagai Bapak Anak dungu.

Dilema seperti itu yang membuat salah seorang adik Cak Fuad, yang ilmu, pengetahuan, dan pengalaman sosialnya tidak kalah dibanding saya: tidak bersedia menuliskannya, karena saya terlanjur dikenal sebagai penulis, dan dia tidak mau mendengar orang nyeletuk: “Oo, adiknya Cak Fuad dan Cak Nun…

Nuansa psikologi sosial seperti itu juga yang membuat saya melakukan berbagai hal agar jangan sampai masyarakat tahu Sabrang adalah anak saya — ketika ia menampilkan Letto dengan karya-karyanya. Bahkan bersama Mbak Novia kami “berpuasa” menjauh dari proses awal Letto, dan pertama mendengarkan lagu-lagu mereka hanya dari hasil rekaman.

Satu dua tahun publik tidak tahu Letto terkait dengan kami. Tetapi setelah ada yang tahu, masih muncul penyakit: yakni tidak percaya bahwa proses kreatif Sabrang dan Letto sama sekali tanpa sentuhan apalagi pengaruh kami. Sungguh-sungguh dalam budaya masyarakat kita tidak subur sama sekali nilai-nilai keaslian, orisinalitas, otentisitas — yang kalau diperdalam akan sampai ke dimensi kesejatian dan kefitrian.

Mungkin karena itu yang populer dan dihargai oleh masyarakat kita adalah kuda. Sebab diam-diam mereka punya insting untuk “siap diperkuda”. Dan tidak ada etos dalam kebudayaan yang bunyinya “diperkeledai”. Masyarakat kita mengagumi kecantikan dan kegagahan kuda, meskipun puncak fungsinya adalah ditunggangi, dikendalikan, disuruh, diperbudak. Mereka meremehkan keledai yang “wagu” dan buruk rupa, meskipun keledai secara mental lebih mandiri dan orisinal.

Dulu nenek moyang kita punya tradisi dan filosofi “Ilmu Katon itu gampang dan remeh”. Sekarang kita kalap mengejar dan menyembah “Barang Katon”.

Mata Kemerdekaan

Saudara saya punya pilihan sendiri, saya dan semua saudara-saudara lain juga punya pilihan sendiri-sendiri. Ayah Ibu sama sekali tidak pernah mengarahkan hidup kami untuk memilih atau menjadi apapun. Hal aqidah dan akhlak tidak pernah diajarkan dan dinasihatkan, karena merupakan fakta hidup sehari-hari.

Adapun kata “menjadi” atau “dadi”, tidak pernah menjadi tema: Insinyur, Dokter, Pengusaha, Pejabat atau apapun, tidak pernah menjadi topik dalam dialog keluarga. Juga tidak ada tuntutan apa-apa dari orangtua kami, kecuali semacam pengawasan tak kentara terhadap cuaca kesungguhan kami kepada Allah.

Kami adalah keluarga yang sangat merdeka. Tetapi pada kenyataannya, pilihan kami sama. Cara menggoreng bola, zigzag ketika memainkan lalulintas bola, atau operan panjang operan pendeknya penuh variasi — ternyata setelah sekian puluh tahun, ternyata pilihan gawang kami sama. Goal kehidupan kami tidak berbeda. Tak satu pun di antara kami sekeluarga yang berbeda.

Tidak ada yang mengarahkan itu. Mungkin pada akhirnya kehidupan adalah teks Allah di Lauhil Mahfudh. Penguasa sejati adalah amrullah, qadlallah, iradatullah. Dan kami sekeluarga tergolong kumpulan manusia yang sangat mudah digiring oleh kemauan Allah, karena tidak banyak dari muatan dunia ini yang kami dibiasakan untuk terpesona kepadanya.

Ada semacam garis genealogi. Alur nasab, atau apapun nama dan teorinya. Tapi sejak Mbah Wareng, Canggah, Buyut hingga Ayah Ibu kami, gawangnya sama, arah goal-nya sama, bahkan jenis lapangan dan permainan sepakbolanya sama. Alur itu menjadi semakin memadat karena mungkin panutan Ayah kami adalah Kakek kami sendiri, yang bernama ‘Ainul Hurry: mata kemerdekaan. Sehingga itu pulalah muatan transformasi nilai, budaya, dan kependidikan di rumah kami.

Berbeda-beda penghayatan dan penemuan kami atas kemerdekaan itu. Pada saya sendiri, untuk menulis tentang Cak Fuad ini, tidak menemukan pada diri saya kesulitan atau rasa tidak wajar. Tulisan ini saya ketik biasa-biasa saja, tidak ada hal-hal yang perlu saya atur, saya aransir, saya maintain, atau saya pas-paskan nada dan iramanya. Tidak ada gimana-gimananya. Ini mengalir begitu saja.

Anak-anak Panah

Mengalir begitu saja, sebagaimana lebih setengah abad rasa hidup yang kami jalani. Kami adalah anak-anak panah yang meluncur, atau lebih tepatnya: diluncurkan. Anak-anak panah menembus kegelapan dan cahaya, membelah kabut dan ‘beluk’, meluncur melewati segala macam atmosfer, wewangian dan bau busuk, udara yang padat atau angin puting beliung. Bahkan menembus bebatuan gunung hingga menusuk-nusuk dasar samudera.

Anak-anak panah tidak pernah mengerti sedang diluncurkan ke mana. Tidak tahu akan menancap ke tembok atau kehampaan. Bahkan anak-anak panah tidak bisa lagi menanyakan apapun kepada busurnya. Anak-anak panah melesat hanya berbekal iman dari gelapnya busur di masa silam, serta mempertahankan lajunya dengan istiqamah dan keyakinan bahwa mereka sekadar menjalani “Ihdinas shirathal mustaqim”. Demikian hingga hari terakhir jatah kehidupan. Demikian hingga rakaat terakhir bersembahyang.

Kami adalah keluarga yang turun-temurun, sampai era di mana Ibu dan Ayah kami mendidik Cak Fuad dan 14 adik-adiknya: tak pernah punya tradisi kepentingan, egosentrisme, dan persaingan. Saya meyakini Jamaah Maiyah sudah memiliki sangat banyak referensi untuk memahami dan  menjelaskan hal ini kepada diri masing-masing.

Tapi saya, juga kami semua, tidak punya beban apa-apa, untuk bicara apapun, karena memang dalam cuaca budaya keluarga kami benar-benar tidak pernah dikendalikan oleh tiga energi itu. Sedemikian rupa sehingga Cak Fuad dan saudara-saudaranya tidak dilihat orang sebagai keluarga tanpa pamrih, tapi keluarga bodoh. Tidak ada yang menempuh karier pribadi sebagaimana hampir semua orang. Tidak pernah didorong oleh Ibu dan Ayah untuk punya cita-cita yang sifatnya kehebatan pribadi: menjadi Dokter, Menteri, Ulama atau apapun.

Kami adalah kumpulan manusia naif, tidak progresif, tidak pernah ‘maju’, tidak pernah mencapai apa-apa. Kami sibuk melatih cara berjalan kaki, dan tak pernah sempat “menggantungkian cita-cita setinggi langit” sebagaimana etos nasional yang dicetuskan oleh Pembesrev Bung Karno. Ibu kami Chalimah pernah berpidato di depan Jamaah Padhangmbulan pertengahan 1990-an bahwa “anak-anak muda harus punya sikap progresif revolusioner” – tetapi yang dimaksud Beliau bukan suatu perjuangan eksistensial. Bukan untuk menjadi tokoh nasional, menjadi “orang besar”, “dadi uwong”, punya kekayaan dan kehebatan yang orang lain tak memiliki. Yang dimaksudkan oleh Ibu Chalimah adalah revolusi setiap anak muda kepada dirinya sendiri, dalam perjalanannya menuju kepastian hidup, yakni menghadap Allah Swt, dengan satu-satunya pengharapan, yakni memperoleh ridlo-Nya.

Tidak ada manusia atau makhluk Allah jenis apapun yang punya peluang kemerdekaan untuk menentukan cita-citanya sendiri, kecuali hal-hal kecil dalam spektrum Ilmu Katon, skala pendek kehidupan di dunia yang remeh dan penuh kekerdilan. Cita-cita yang tersedia hanya satu, sebagaimana sudah dikemukakan di atas: mendapat ridha Allah, atau minimal tidak dimurkai oleh Allah. Cita-cita yang selain itu, meskipun tampak mewah, hebat dan gemerlap, pada hakikatnya adalah penganiayaan terhadap diri ciptaan Allah dan perstiwa buta tuli terhadap kehidupan.

Maka sepanjang hidupnya Cak Fuad — dan alhamdulillah semua saudara-saudaranya — tidak pernah “memanjat pohon untuk berebut mengambil buah”, tidak pernah “menaiki tangga untuk mencapai derajat tinggi”, tidak pernah “berdesakan dengan pesaing-pesaing untuk memperoleh tampat”, tidak pernah ada dalam pikirannya “di sana ada kursi yang harus saya duduki”. Cuaca budaya kependidikan yang diterapkan oleh Ayah dan Ibu kami adalah kebiasaan untuk “membikin kursi sendiri”, meskipun hanya bangku sederhana dan dampar kecil. Itu pun kursi temporal. Sementara. Sekadar “wala tansa nashibaka minad dunya”. Cak Fuad dan kami sekeluarga tidak cocok hidup di zaman ini.

Cak Fuad hari-hari ini sibuk berkeliling dunia sebagai satu dari Sembilan anggota Majelis Umana Kerajaan Saudi, pemelihara Bahasa Arab di dunia. Allah yang memilih Cak Fuad menjadi apapun dan berada di manapun. Karena Indonesia tidak memilihnya, bahkan kemungkinan besar tidak mengetahui adanya.

Yogya 28 Juni 2017.

Qadla dan Qadar Menturo Kalau kakak sulung kami bukan Cak Fuad, belum tentu kita punya kenikmatan Padhangmbulan dan Maiyah seperti ini. Kalau di antara 15…