Daur-II • 079

Cahaya Mencahayai Dirinya

Maha Suci Allah dari segala kebatilan yang dikandung oleh perkataanku. Maha Agung Ia dari segala kotoran yang termuat oleh ucapanku.

Allah, satu-satunya yang ada. Satu-satunya yang sejati ada. Yang Maha Sejati Ada. Yang Sungguh-sungguh Maha Sejati Ada. Sedangkan aku, siapapun dan apapun selain Ia, hanyalah di-ada-kan olehNya. Posisinya seakan-akan ada. Hanya diselenggarakan, diciptakan, dipertunjukkan, diperjalankan olehNya. Hanya diambil dari Maha Diri-Nya Sendiri. Hanya dicipratkan, dicuil, diulur, dilemparkan, untuk kemudian ditarik kembali, diserap dan dipersatukan kembali dengan-Nya.

Segala yang selain Ia, hanyalah keniscayaan yang tidak niscaya. Allah mengungkapkan cinta dengan memancarkan cahaya. Cahaya yang Ia cintai dan Ia puji. Segala yang diciptakan hanyalah bagian dan kelanjutan dari yang menciptakan. Dan segala yang diciptakan oleh Allah hanyalah bagian dari Maha Diri-Nya sendiri, serta merupakan wujud ungkapan dari kemauan-Nya sendiri untuk menciptakan dan menyelenggarakan.

Allah sendiri menyatakan dengan kalimat terang benderang bahwa Ia Sendiri adalah Maha Cahaya. Maha Cahaya yang menyinari langit dan bumi, yang Ia sendiri pula yang menciptakannya. [1] (An-Nur: 35). Yang disinari oleh beliau Sang Maha Cahaya adalah cipratan cahaya-Nya sendiri. Adalah “sedekah penciptaan”-Nya sendiri, yakni cahaya yang memadat dan mewujud menjadi empat tingkat wujud jasad.

Yakni benda. Kemudian benda yang berketumbuhan. Lantas benda yang berketumbuhan, berdarah daging dan bernafsu. Serta benda yang berketumbuhan, berdarah daging, bernafsu dan berakal. Dalam pemetaan kemakhlukan itu manusia mencari dirinya dengan menggunakan kecerdasan akal dan ketajaman rohaninya. Wahai Iqra` menyerapku.

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra