Daur-II • 160

Anugerah Keluasan dalam Kesempitan

“Kami bisa mengembara ke lapangan-lapangan nyata masyarakat, sampai ke pojok-pojok realitas, ke relung-relung kerusakan, ke tikungan-tikungan tipu daya dunia. Tapi kalau bekal pandangan ilmu kami berasal justru dari sekolah-sekolah kerusakan itu, maka yang kami dapatkan pasti hanya comberan pengetahuan dan debu-debu pengetahuan yang tak berguna”, Seger lagi memberi catatan.

Junit membenarkan. “Coba kita perhatikan ulang informasi Allah: “…Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah[1] (Al-Kahfi: 17). Meskipun kita berada hanya di ruang dalam rumah Pakde Brakodin yang pengap dan kurang saluran udara ini, asalkan memenuhi syarat untuk disebut “berada di tempat yang luas di dalam gua itu” – maka yang kita peroleh bisa lebih luas dan mendalam dibanding kalau kita blakra`an kesana kemari”.

“Apa yang kamu maksud dengan ayat itu?”

“Dulu Mbah Sot kata Pakde mengemukakan bahwa kita bisa membangun keluasan intelektual dan spiritual dalam kesempitan teritorial. Jasad bukan ukuran utama. Jasad bukan ‘wadah-nya roh’. Ilmu dan cinta tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu. Tetapi di ayat itu keluasan terbentang tidak karena usaha rohani manusia, melainkan Allah sendiri yang menganugerahkannya. Para Ashabul Kahfi dikatakan berada dalam ruang yang luas di dalam Gua. Artinya di dalam Gua yang sempit itu Allah menciptakan keluasan ruangan bagi penghuninya”

“Maksudmu kita ini Ashabul Kahfi dan gubuk Pakde Brakodin ini Gua Kahfinya?”, Pakde Tarmihim tertawa, “Kita jangan GR.”

“Bukan GR Pakde. Ini husnudhdhan. Terus untuk apa Allah mengisahkan Ashabul Kahfi, kalau tidak berlaku juga untuk kita?”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra