Reportase Suluk Maleman Juli 2013

Cahaya di Atas Cahaya

Bertempat di Rumah Adab Indonesia Mulia di kota Pati, Sabtu 20 Juli 2013, Maiyahan Suluk Maleman mengambil tema ‘Cahaya di Atas Cahaya’. Setelah dibuka dengan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan persembahan Lir Ilir dari Sampak Gus Uran, Habib Anis Sholeh Ba’asyin menyapa semua jamaah dengan menyatakan bahwa puasa merupakan titik awal untuk membersihkan diri dari segala yang haram. Puasa membangun peradaban cahaya. Turut hadir di atas panggung Pak EH Kartanegara dan Pak Toto Rahardjo.

Ada sebuah cerita, seorang ayah menyuruh anaknya mencari makhluk yang paling buruk. Jika berada di posisi si anak, Cak Nun menyatakan tidak akan berangkat. Ada tiga alasannya.

Pertama, hanya Allah yang mempunyai tingkat ketelitian yang memadai untuk menilai apakah seseorang itu baik atau buruk. Jangankan manusia, malaikat pun harus konfirmasi dulu kepada Allah. Nabi juga tidak diberi kemampuan sejauh ini. Nabi tak diberi pengetahuan mengenai jumlah sel, atom, proton, dan neutron. Sangat banyak hal yang sama sekali tidak kita ketahui. Setan saja, yang teknologi batinnya jauh di atas kita, tidak mengerti baik-buruk sampai ke tingkat kasunyatan.

Kedua, kemampuan manusia tidak terletak pada daya memastikan kenyataan yang dia serap atau dia miliki. Yang bisa dilakukan manusia adalah merasa dirinya jelek — dan ini merupakan semacam kewajiban moral. Maka semua Nabi menyebut diri mereka sebagai dzalim. Jawa punya ajaran untuk ini, yakni : biso rumongso, ojo rumongso biso.

Orang Jawa punya peradaban dan resolusi batin yang berpuluh abad lamanya yang membuat mereka memiliki makrifat-makrifat batiniah tertentu tanpa melalui ajaran-ajaran agama. Orang Jawa bisa membedakan ‘bener’ dengan ‘pener’, misalnya. Setiap kata dan peristiwa di Jawa diterjemahkan secara sangat detil.

Acara seperti malam ini pasti disebut sebagai pengajian, bukan pengkajian. Pengkajian merupakan pekerjaan di dalam majlis taklim berupa pengumpulan data, analisis, dan penyimpulan. Majlis ta’lim adalah simposium intelektual, di mana beberapa orang yang sejajar posisinya berkumpul untuk mencari kebenaran. Tapi sekarang yang berlaku justru kebalikannya.

Baik-buruk merupakan urusan orang yang berakal, yang mengalami perjanjian dengan Tuhan untuk menjadi orang baik dan dia diberi pengertian antara baik dan buruk.

Alasan ketiga, cerita itu terjadi antara ayah dan anak yang beragama Islam, maka mungkin terjadi pada abad ke-8, ke-9, atau ke-10. Dalam sejarah, manusia mengalami penurunan jangkauan usia dan ukuran badan. Nabi Adam umurnya 900 tahun, kemudian Nabi Nuh ditingkatkan lagi sampai 3000 tahun lebih. Pada masa Nabi Adam belum ada Qur’an, belum ada bahasa. Bahasa yang ada adalah bahasa yang diajarkan langsung oleh Allah.

Mengenai tema yang dibahas pada malam ini, yakni cahaya, Cak Nun membacakan Surah An-Nur ayat 35, lalu memberikan pendekatan untuk memahami apa itu cahaya dan bagaimana sifat-sifatnya dalam tiga tingkatan. Matahari yang selama ini kita percaya sebagai sumber cahayapun sebenarnya tidak memancarkan cahaya. Matahari hanya memancarkan energi inti sedemikian rupa sehingga ketika dia menimpa benda-benda alam tertentu akan membuat mata kita menjadi kompatibel sehingga kita bisa melihat. Cahaya merupakan sesuatu yang sangat misterius yang merupakan awal dari kehidupan kita, sekaligus sesuatu yang sangat ghaib yang merupakan ujung dari kehidupan kita.

Big Bang menyebabkan cahaya terbagi menjadi tiga macam: cahaya yang dapat diindera, cahaya berupa gelombang, frekuensi, dan energi yang tak kasat mata, dan cahaya esensial seperti wujud aslinya. Tiga padatan atau gelombang inilah yang bekerja dalam hidup, baik di dalam maupun di luar diri kita.

Gelombang pertama adalah gelombang materialisme. Bentuknya bisa berupa bumi, kekayaan, jabatan, negara, balsem, minyak tawon, macam-macam kuliner, dan semua yang terindera. Gelombang pertama ini merupakan kerak atau ampas dari cahaya. Setelah meninggal nanti, bentukan dari gelombang pertama ini tak mungkin kita bawa untuk bisa berjodoh dengan cahaya yang lebih sejati. Sementara itu, sekarang rata-rata manusia justru menyibukkan diri dengan materialisme.

Materialisme adalah alat pertama Dajjal dan Iblis untuk membalik pandangan manusia, sehingga pada gilirannya manusia justru mengejar neraka dan meninggalkan surga. Pertemuan-pertemuan Maiyah di manapun merupakan wujud kecemasan jamaah terhadap gelombang pertama, terhadap gelombang yang paling kasar dan paling pendek umurnya.

Padahal yang nanti dipanggil Allah adalah mereka yang muthmainah, mereka yang mampu merasakan ketenteraman sejati di dalam dirinya. Makan ya makan, tapi bukan makannya yang utama.

“Anda lihat dari berbagai grup musik, dari Godbless, Ucok Harahap, Panbers, sampai Noah, kami Kiaikanjeng tetap seperti ini dan itu dinamakan tidak mengalami peningkatan. Karena yang dimaksud sebagai peningkatan itu adalah peningkatan materialisme. Sejak kelas 3 SMA saya sudah menolak untuk konndang, untuk kaya, dan untuk punya jabatan. Kalau bangsa Indonesia disebut sebagai bangsa terbelakang, saya merasa diri saya tidak terbelakang. Sekarang definisi bangsa maju adalah bangsa yang kaya. Saya tidak taat pada dunia materialisme, tidak taat pada dokter, tidak terikat hukum, tidak mau taat hukum. Karena mau kamu bikin aturan atau tidak, saya akan tetap jadi orang baik — bukan karena disuruh.”

“Anda saya sarankan untuk jangan sampai dikuasai oleh gelombang pertama. Anda tidak boleh tertekan, sedih, stress, bingung. Anda harus lepas dari kebingungan-kebingungan itu.”

Uang itu kerak cahaya, kerak materialisme yang tidak bermutu, tapi ketika dia digunakan untuk menafkahi anak, istri, dan tetangga, itu menjadi gelombang cahaya yang lebih sejati.

“Amati di dalam dirimu, mana yang merupakan gelombang pertama, kedua, dan ketiga. Saat menjadi pegawai, absen pagi-sore, mengerjakan urusan-urusan pekerjaan, itu merupakan pekerjaan gelombang satu. Dia bisa menjadi gelombang kedua tergantung dari caramu memaknainya. Batas-batas hubunganmu dengan materialisme harus kamu manage terus. Pokoknya cari terus gelombang ketiga (Nur Muhammad). Tiap hari Anda harus bermain silat untuk tidak membiarkan diri Anda diperbudak gelombang pertama.”

Setelah penampilan dari kelompok Jazz Ngisor Ringin, Habib Anis menambahkan, “Kalau kita balik, cahaya tahap pertama sampai keempat, apakah kebenaran itu ketika yang di dalam sesuai dengan yang di luar? Kita bisa melihat daun hijau karena ada sesuatu di dalam diri kita yang bisa melihat ketika nyambung dengan dunia luar.”

“Setelah menemukan kebenaran yang material, kita akan menemukan kebenaran yang sifatnya cahaya. Kalau ada cahaya matahari yang membuat kita mampu menangkap warna hijau, kita akan mencari sumber cahayanya. Kehidupan kita bukan hanya menerima atau memantulkan tapi juga turut berpartisipasi dalam pembentukan cahaya dalam diri, keluarga, masyarakat, dan semesta. Kalau kita mengerjakan kebenaran kecil, akan muncul efek akumulasi yang bergulung-gulung menjadi kenyataan besar di semesta ini.”

“Allah manciptakan segala sesuatu dengan berpasang-pasangan — juga yang di dalam diri Anda, itu punya koneksi dengan yang ada di alam semesta. Hiduplah dalam kebenaran, sampai nanti Anda menemukan sumber cahayanya, yaitu Nur Muhammad, lalu ke sumber dari sumbernya yaitu Allah sendiri.”

Pada sesi tanya-jawab, empat jamaah mengajukan pertanyaan. Pertama, rumus seperti apa yang bisa digunakan untuk menuju gelombang ketiga. Kedua, apakah cahaya kuning, biru muda, hitam, merah yang melekat pada beberapa orang itu yang dimaksud sebagai cahaya dalam bahasan tadi. Ketiga, seperti apa level gelombang ketiga. Terakhir, ketika orang merenung, apakah itukah cahaya yang sebenarnya.

“Godaan untuk manusia adalah pertanyaan-pertanyaan seperti ini,” jawab Cak Nun, “Kalau istrimu hamil, apakah Anda harus melihat wujudnya pada beberapa minggu pertama atau nanti saja kalau sudah waktu kelahirannya?”

“Jangan minta sekarang ini, bagaimana rasanya bertemu dengan Allah, atau bagaimana wujud gelombang sejati. Sekarang masalahnya tinggal kamu mau ke sana atau tidak. Kalau tanya seperti apa wujudnya sekarang, itu seperti kamu baru mau kerja kalau sudah jelas berapa hasilnya. Akhirnya nggak jadi kerja.”

“Nggak usah nanya. Nikmati saja perjalanannya, bukan panennya. Kalau ngomong wujud, ya tan kinoyo ngopo, tan keno kiniro. Kalau kamu mengandalkan pengetahuan sampai ke sana, kamu akan kehilangan kenikmatan dari ketidaktahuan. Padahal dalam beberapa hal, tidak tahu itu sangat penting. Jalani saja.”

“Kemudian mengenai tiga gelombang, itu hanya simplifikasi saya. Bisa saja aslinya ada 7, 9, atau tak terbatas. Itu hanya untuk memudahkan. Pada semester pertama kita mengenal x, y, dan z, tapi sebenarnya kan ada banyak sekali di luar itu.”

Maiyahan Suluk Maleman diakhiri dengan shalawatan dan doa bersama.