(Reportase Maiyahan di Lapangan Kartopuran, Solo, 23 Juni 2012)

Hari Ini Adalah Benih

Bahwa sudah pasti setiap muslim yang telah baligh serta sehat wal afiat akalnya akan mengimani terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad. Keyakinan dan keimanan terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj bukan karena ia telah lolos dari penelitian ilmiah oleh ratusan bahkan ribuan profesor, juga bukan karena ia telah dikuatkan dengan — misalnya — diturunkannya keputusan presiden dari seluruh negara di kolong langit, tapi karena berita itu secara langsung tersurat dalam Al-Qur’an yang sudah pasti tidak mungkin tidak ilmiah, tidak mungkin salah dan sangat tidak mungkin mengandung keragu-raguan.

Ini namanya ma’rifat, yaitu untuk urusan dengan “perkataan” Tuhan kita hanya butuh percaya dan yakin dan seyogyanya tidak meragukannya sedikit pun. Beda urusannya dengan ketika kita membaca atau mendengar atau disodori perkataan seorang presiden, menteri, anggota DPR, akademisi, ilmuwan, atau siapapun dia yang masih tergolong dalam kelompok manusia. Untuk menyikapi mereka kita butuh pendekatan ilmu, kita harus menelitinya, melakukan check and recheck, melakukan analisis dan kajian-kajian tertentu guna membuktikan kebenarannya. Dengan demikian ada muatan ilmu yang teramat jauh antara metodologi ilmiah dan metodologi “makrifatiyah”.

Misalnya kalau seorang presiden berkata bahwa pembangunan yang sedang dijalankannya telah berhasil dan sukses menekan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat, itu kita tidak boleh langsung mempercayainya. Tentu ini bukan su’udzon tapi lebih kepada agar dari sesama manusia kita bisa saling belajar satu sama lain.

Akan tetapi lain halnya kalau kita suatu kali menemukan ada “perkataan Tuhan” seperti ini: “Subhanalladzii asraa bi’abdihii laillan minal masjidil haraami ilal masjidil aqshaalladzii baarakna haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa. Innahuu huwas samii’ul bashiiru.” (Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, QS Al Isra’: 1).

Kalau membaca atau mendengar ayat ini, kita harus langsung percaya dan yakin terhadapnya. Kita tidak bisa dan tidak mampu untuk membuktikan kebenarannya melalui penelitian ilmiah karena sangatlah tidak mungkin hamba memahami Khaliq. Yang kemudian mesti kita lakukan adalah mencari dan terus-menerus menemukan realitas kebenaran dan kontekstualitasnya dalam kehidupan kita.

Ayat 1 surah Al Isra’ inilah yang disampaikan Cak Nun saat mengawali kegiatan Ma’iyahan dalam rangka peringatan Isra’ Mi’raj di lapangan Kartopuran Solo pada 23 Juni 2012 yang lalu.

“Kalau mengetahui ayat ini, kita nanti akan mengetahui keutamaan melakukan segala sesuatu dalam hidup ini berdasarkan konsep diperjalankan Tuhan“, demikian kata Cak Nun. Segera kemudian Cak Nun menyusul dengan penjelasan, “Apa saja yang kita hadapi itu sesungguhnya berada dalam koridor diperjalankan Tuhan sehingga dengan begitu kita janganlah terlalu banyak berprasangka mengenai diri kita dan mengenai dunia. Nah, kata diperjalankan disambung dengan kata pada suatu malam. Apa ini maksudnya? Hidup itu malam, hidup itu “peteng” (gelap) dan peristiwa-peristiwa masa depan dalam hidup kita adalah malam. Karena itu untuk melewati kegelapan itu kita butuh cahaya, kita butuh penerang yang harus kita dapat dari apa saja yang telah diberitakan oleh Tuhan melalui ayat-ayatnya (tanda-tanda) kebesaranNya,” demikian Cak Nun menguraikan.

Melanjutkan penjelasannya Cak Nun menegaskan bahwa dengan ini semua kita tidak akan pernah punya waktu untuk tidak bersyukur kepada Allah. “Kita di sini tidak anti siapa-siapa, karena Islam adalah ummatan wasathan, artinya jalan tengah, yaitu berada di tengah-tengah di antara 2 kutub, tidak ekstrem kiri maupun ekstrem kanan,” ujar Cak Nun.

(Menurut beberapa pendapat, ada yang mengatakan bahwa sebenarnya kata “wasit” itu berasal dari kata wasathan. Perhubungannya kira-kira begini: “wasatha-yasithu-wasathan”, artinya adalah orang yang ada di tengah-tengah. Jadi kemudian muncullah istilah “wasi”, yaitu pihak yang tidak memihak, tetapi bertugas menyelenggarakan kehidupan agar berjalan dengan tertib dan memberikan keputusan secara adil).

Cak Nun bersama KiaiKanjeng yang pada malam itu didampingi Mbak Novia Kolopaking menggunakan momen peringatan Isra’ Mi’raj sebagai sarana komunikasi sosial dengan berbagai elemen masyarakat Islam Solo dari latar belakang yang berbeda-beda dengan cara memoderasi elemen-elemen itu sehingga terjadi dialog. Malam itu ada Mas Budi dari TPM Solo, Pak Khalid dari FPIS dan juga Kapolres diminta Cak Nun untuk naik ke mimbar. Beberapa wakil elemen masyarakat itu diberi ruang untuk saling membangun dialog dalam rangka merefleksi berbagai peristiwa terutama yang menyangkut konflik horizontal bernuansa SARA yang sering terjadi di Kota Solo.

Secara garis besar, semuanya mempunyai muara pemikiran yang sama yaitu bahwa dalam hal terselenggaranya iklim sosial yang sehat di masyarakat sesungguhnya yang sering terjadi antara kelompok dengan kelompok lain atau antara salah satu kelompok dengan pemerintah adalah tumbuhnya kecenderungan saling berprasangka satu sama lain. Maka dari itu Cak Nun mengusulkan agar acara-acara seperti ini terus diselenggarakan sehingga terjadi interaksi kemanusiaan antara banyak pihak di Solo.

Lantas dalam menyikapi masalah-masalah sosial di masyarakat, Cak Nun berpendapat bahwa hendaknya kita bisa menyikapinya dengan berangkat dari pengetahuan kita tentang hal-hal paling mendasar.

“Misalnya begini, kenapa banyak orang mendem (mabuk-mabukan)? Karena bodoh, karena terpengaruh teman atau karena bingung sebab terlalu banyak punya uang? Orang mabuk-mabukan itu sebab atau akibat? Lalu dalam skala yang lebih luas, penyakit masyarakat itu masalah lokal, nasional, atau internasional? Oke, asumsinya ini masalah internasional”, jelas Cak Nun mengajak para jamaah untuk menemukan substansi masalah yang kita alami bersama di masyarakat. Dalam hal seringnya terjadi konflik sosial di masyarakat, Cak Nun mengajak semua pihak agar selalu mencermati diri sehingga lebih mampu untuk saling memberi ruang satu sama lain sebab siapa tahu konflik muncul tidak karena disebabkan oleh perbedaan tapi karena kita sedang diadu domba untuk saling membunuh satu sama lain. Di sinilah letak pentingnya kesholehan pribadi dan sosial. “Sholeh itu kemampuan diri untuk menghitung setiap perkataan dan perbuatan kita sehingga mampu menakar apakah yang kita ucapkan dan lakukan itu kira-kira menimbulkan mudharat atau manfaat kepada orang banyak”, Cak Nun menjelaskan.

“Kenapa kita seringkali bertengkar? Apa karena kita suka bertengkar atau ada sebab-sebab tertentu sehingga kita saling bertengkar? kita dibuat bingung oleh pihak yang seharusnya mengayomi kita, kita seringkali dibuat mengalami kekecewaan baik secara psikologis, sosial, ekonomi, hukum dan sebagainya, begitu terus menerus sehingga kita uring-uringan di antara kita sendiri dan tidak menemukan musuh selain saudara sendiri”, Cak Nun mencoba menganalisis. Di samping itu, menurut Cak Nun hal lain yang menjadi pemicu terjadinya ketidakharmonisan dalam masyarakat sehingga memunculkan potensi konflik adalah karena kita melakoni hidup diatur oleh orang dari luar kita.

“Contohnya kata “teroris”. Fenomena terorisme adalah karena anda diakali. Teroris itu istilah dari Barat, teroris itu bahasa politik tapi disikapi secara hukum. Kemudian istilah “Jihad”. Jihad itu apa saja daya upaya yang berusaha mengubah keadaan seseorang menjadi lebih baik”, ujar Cak Nun.

Menjelang penghujung acara, Cak Nun mengajak semua jama’ah untuk belajar dari konsep Baitullah. Dalam pandangan Cak Nun, Ka’bah hanyalah “retorika” Allah karena mustahil Allah hanya “bertempat tinggal” di tempat itu. Hal ini menunjukkan bahwa tidak mungkin ke-Maha Besar-an Tuhan sanggup ditampung oleh hanya satu tempat manapun di dunia ini. “Tuhan bersemayam didalam hatimu, di dedaunan, dan semua tempat sehingga di mana pun adalah Baitullah“, Cak Nun menjelaskan.

Selain menguraikan tentang konsep Baitullah, Cak Nun menyambungnya dengan mengajak para hadirin untuk mencermati perilaku orang yang beribadah haji. “Pada saat melakukan ibadah haji, banyak orang yang justru tidak ingat apapun kecuali dirinya sendiri. Banyak orang berlomba-lomba ingin mencium Hajar Aswad dengan dengan jalan menyingkirkan orang lain.

Kontekstualitasnya dengan kehidupan kita saat ini adalah banyak orang ingin meraih kesuksesan di dunia ini meskipun dengan menyingkirkan banyak orang,” sambung Cak Nun. Dalam pandangan Cak Nun, “sukses itu tidak bisa diraih dengan menyingkirkan orang lain, sukses adalah karena anda diperkenankan oleh Tuhan”.

Dibagian akhir acara, bersama berbagai elemen masyarakat yang hadir malam itu Cak Nun menyampaikan, “Apa yang kita lakukan malam hari ini adalah “menanam biji”, dan esok hari Anda harus merawatnya terus-menerus agar ia tumbuh dan menghasilkan buah kebaikan kepada banyak orang”.

dipublikasikan oleh CakNun.com