Empat Retakan Jiwa Bangsa Nusantara

“Perahu Retak” aslinya adalah judul sebuah lakon teater di awal 1980an yang berkisah tentang sejarah Nusantara pada awal abad 15. Inti kandungannya adalah kegagalan Bangsa (yang pernah sangat besar) Nusantara untuk menemukan kepribadian sosialnya sesudah punahnya kekuasaan besar Kerajaan Majapahit. Baca selengkapnya

Mengeja Cahaya

Pada perjalanan menghadiri Maiyahan akhir-akhir ini, saya banyak bertemu pelajaran-pelajaran penting melalui beberapa keadaan dan peristiwa yang aku lalui disepanjang perjalanan. Sebagai misalnya, di malam hari tanggal 12 April yang lalu ketika akan menghadiri maiyahan dalam rangka mengenang 100 tahun Hamengkubuwono IX di Pagelaran Keraton Jogjakarta, saya harus berhenti di tengah jalan sebab hujan teramat deras sehingga aku memutuskan untuk berteduh di sebuah warung sederhana yang telah tutup. Bersama seorang teman yang penggiat wayang kulit, kami menunggu hujan reda sambil menikmati kretek kegemaran dalam hawa dingin serta cuaca gelap yang menerbitkan keraguan pelan-pelan. Hari makin beranjak malam sementara hujan belum nampak akan segera mereda. Kami saling pandang membawa kebimbangan apakah akan meneruskan perjalanan ataukah pulang kembali ke rumah dan membatalkan perjalanan. Baca selengkapnya

Beragama Di Kala Duka

Kalau tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri Anda, kemudian orang tersebut minta dibelikan baju, sepatu, atau bahkan kendaraan, bagaimana kira-kira tanggapan Anda? Padahal orang itu hanya Anda kenal di jalan, atau paling kalau berpapasan hanya saling mengangguk tanpa tegur sapa yang panjang, apalagi bincang-bincang penuh kemesraan? Selanjutnya jika Anda bersahabat dengan seseorang, dan orang itu tiap hari senantiasa menunjukkan kehangatan cinta kepada Anda, berbincang ria dalam suka dan duka, dan tiba-tiba orang itu mengalami kesulitan, kira-kira apa yang akan Anda lakukan terhadap orang itu, meski dia tidak mengungkapkannya langsung kepada Anda? Baca selengkapnya

Seabad Hamengkubuwono IX

Peringatan seabad Hamengkubuwono IX beberapa hari yang lalu (12 April 2012) menyiratkan pesan bahwa masyarakat sedang benar-benar merindukan sosok seorang pemimpin yang serius memegang tanggung jawab yang diembannya. Kalau membicarakan kedudukan raja, kebanyakan orang sekarang akan dengan sangat mudah menghubungkannya dengan feodalisme. Tetapi jika kita sedikit saja melacak sejarah hidup Hamengkubuwono IX maka kita akan sampai pada pengertian bahwa secara substantif, Beliau bukan sekedar seorang raja, bukan berhenti pada predikat ulil amri namun Beliau juga memiliki kapasitas sebagai ulama. Sebagaimana Imam Ali pernah mengatakan “untuk melihat seseorang itu ulama atau bukan, lihatlah apa yang ditinggalkan”. Baca selengkapnya

Sumuk

“Tidak ada sesuatu pun di dalam kehidupan yang tidak bisa dipersatukan, karena semuanya berasal dari Satu dan akan kembali kepada Satu. Maka yang apapun saja yang seolah-olah tidak relevan, tidak berkaitan, tidak berhubungan, sesungguhnya semuanya akan gathuk. Orang Jawa sudah mempunyai tradisi othak-athik gathuk. Memang keliru-keliru pada awalnya, tapi kalau engkau ikhlas melakukannya, engkau akan menemukannya. Satu adalah gathuk-nya segala sesuatu.” Baca selengkapnya