Dari Cak Nun Hari Ini

Headline

Untuk dua tahun Juguran Syafaat

Li-Annaka Taísyu Abada

Sejak saya mendengar kata “Juguran” dari lingkaran para Ksatria di arah yang terlintasi setiap kali saya berdiri Takbiratul-ihram menghadap Allah, hingga saat saya menulis ini, tidak pernah berubah pemandangan di angkasa batin saya — juga tidak pernah mau perduli apa makna asli budayanya di kampong halaman kosa-kata itu.

Yakni Rasulullah saw sedang terbang memanggul cahaya sebesar gunung, melintas-lintas dari planet ke planet di beribu-ribu galaksi.

Dan Para Petani Tembakau itu Memeluk Cak Nun

Akhirnya saya bersalaman dengan Cak Nun, Emha Ainun Najib itu, di ujung teras Pendopo Kabupaten Temanggung. Saya menyambutnya ketika turun dari Serena warna abu-abu, mencium tangannya, mengiringinya menuju ruang tamu rumah dinas bupati, dan menunggunya ketika dia berbicara dengan Pak Bupati, Pak Kapolres dan Pak Dandim. Kecuali rambut dan kumisnya yang memutih, tak ada yang berubah dari dia: wajahnya, senyumnya, cara berjalannya, masih sama dengan ketika kali pertama saya melihatnya lebih 25 tahun yang silam sewaktu dia berceramah di Kampus ITN, Malang.

Lainnya dari caknun.com

Tour Hongkong

Komplitnya Ngaji di Chaiwan College

Cak Nun KiaiKanjeng Hongkong Tour 40

Gedung berkapasitas 1500-an orang itu benar-benar penuh. Sebagian bahkan rela mengambil tempat di luar ruangan. Usai puji-pujian bersama vokalis KiaiKanjeng, acara secara resmi dibuka.

Cermin

Para Pelawak dan Dasi

Para pelawak ada baiknya terus mengeksplorasi dan merambah lebih luas wilayah-wilayah tematik untuk bahan lawakan mereka. Misalnya kapan-kapan iseng bercerita tentang kebudayaan manusia modern dengan seutas dasi.

Kebudayaan manusia modern selalu menjelaskan dasi dalam konteks sopan santun, kepribadian kelas menengah, simbol gengsi, dan lain sebagainya.

Majalah Sastra Sabana